DONGENG MALAM
Monday, June 25th, 2007Bulan tak pernah mencintai bayangannya. Ia selalu ingin terlihat terang dan bulat sempurna.
Matahari terlalu jauh untuk dikejar bumi. Sekedar berujar terimakasih pun tak pernah tersampaikan. Matahari terlalu jauh untuk direngkuh!
Bulan mencintai bumi. Ia selalu datang saat malam menjelang. Itulah setia katanya. Bumi mencintai Matahari. Terlihat gagah dan hangat bisiknya. Matahari tak mencintai siapa2. Matahari mencoba bijaksana, tapi selalu saja tak punya alasan untuk menjelaskannya. Matahari gak adil! Teriak bumi. Matahari sombong! Kata Bulan.
Suatu hari, bulan tak datang mengunjungi bumi. Bumi merasa bulan tak mencintainya lagi. Ada lega dan perih yang berbaur. Bukan karena kehilangan, tapi karena tak ada lagi yang mengejarnya. Bumi egois! Bulan tak datang karena gerhana saja…tapi bumi terlanjur membencinya. Bumi semakin memuja matahari, karena Ia selalu datang pagi2 dan pergi setelah petang. Teratur, serperti rencananya untuk bilang ’sayang’ yang gak pernah kesampaian. Bumi bodoh! Matahari suatu kali pernah hilang tanpa pesan. Wajar saja Bumi lupa, saat itu ia sedang menikmati kemanjaan dari Bulan.
Sekarang, bumi diam, bulan tenang, dan matahari belum datang.
(sudut Transtv, di malam yang masih panjang berjalan…)
"Make each day count"