Santapan pagi dengan infotainment terhangat; Aa Gym menikah lagi. No, aku gk akan memperdebatkan secara konsep agama, aturan, syarat, alasan, dan tetek bengeknya, coz it’s absolutly tertera..but, Why??? Kenapa Tuhan?
Istri pertama Aa Gym bilang, "Pada awalnya, sebagai perempuan, saya merasa sakit dan berat. Tapi kemudian saya paham, Allah itu Pencemburu. Ketika saya merasakan kebahagiaan dengan begitu mencintai suami saya, saya ditegur, diberi ujian untuk membagi kebahagian ini dengan suami dan wanita itu…" Dengg…aku sama mbakku, sebagai sesama perempuan, hampir aja nangis denger itu. Inikah makhluk mulia yang bisa mencintai Tuhan lebih dari segala yang dicintainya?!
Kemaren, istri pertamanya Setiawan Djody cerita tentang kelahiran anak2nya. Empat anaknya yang pertama adalah perempuan, dan ketika lahir, suaminya gak mau langsung nemenin. Begitu anak kelima lahir laki-laki, gak sampe sepuluh menit, suaminya datang dengan penuh kegirangan. Allah, perempuan ini sudah Kau buat hamil berkali-kali, setiap kali ia merasakan sakitnya melahirkan, bentuk tubuhnya berubah gak langsing lagi, harus menyusui dan siaga setiap waktu pun ditengah malam buta, tapi Kau beri ia suami yang cuma menghargainya ketika bisa memiliki anak laki2. Itu pun setelah ia dimadu dengan beberapa wanita. Ia tak mendapatkan cinta yang utuh dari suaminya. Tapi hanya ia yang tetap setia ada, pun ketika istri2 lainnya meniggalkan sang suami. Sedih dan perih semua hanya dibawanya dalam diam. Hati dengan jenis apa yang Kau beri utk wanita hebat ini??
Sudah pasti, karena kekurangpahamanku tentang agama ini, aku belum bisa ‘ringan’ menerima konsep polygami. Entah itu dengan alasan yg rasional sekalipun, seperti keberadaan jumlah perempuan yg lebih banyak dari laki-laki. Ini menyangkut perasaan. PERASAAN!
Kau lihat Tuhan, perempuan2 itu biasanya hanya bisa diam dan pasrah. Mereka merasakan ’sakit’ dan pasti bertanya2, "apa yang salah denganku? Apa yang kurang dari aku? Kenapa ini menimpaku?" Dan akhirnya, mereka mencari sendiri ketegaran itu…sampai waktu membantu mereka untuk bisa menerima kenyataan di polygami. Mereka tersenyum loh! Mereka tetep taat pada-Mu loh! But….why???? Engkau tau mereka makhluk mulia, baik, gak neko2,…tapi kenapa harus dibuat ’sakiiiitt’?? Kenapa mereka harus merasakan masa-masa sedih, kecewa, marah, sekaligus tak bisa berbuat apa2 dengan aturan-MU itu??? Apa yang kurang dari mereka coba? Kenapa gak laki2 aja yg dicoba macem2 gitu…yg dikasih kesulitan2 sehebat itu…’kan mereka diciptakan lebih ‘kuat’ dari kami… :((
Speechless.